Gangguan delusi

Gangguan delusi (delusional disorder) atau waham merupakan sebuah penyakit kejiwaan yang umumnya sangat jarang ditemukan. Seseorang yang mengalami penyakit ganguan delusi menunjukkan adanya tanda-tanda delusi, namun tanpa tanda halusinasi, gangguan pikiran (thought disorder), perubahan suasana hati (mood disorder), atau gangguan emosional (emotional blunting atau flattening of affect). Orang yang mengalami gangguan delusi masih bisa menjalani kesehariannya seperti biasa, namun terkadang delusi yang mereka alami dapat mengganggu beberapa aspek kehidupan sosial mereka.1
Gangguan delusi juga merupakan sebuah gejala dari psychosis, yaitu penyakit di mana seseorang tidak bisa membedakan antara apa yang nyata dan apa yang tidak nyata; gangguan bipolar, yaitu gangguan di mana seseorang mengalami episode-episode di mana mereka merasakan elevasi suasana hati (manic) dan depresi (depression); gangguan depresi berat; delirium, yaitu menurunnya fungsi mental; dan dementia, yaitu menurunnya daya kerja otak. Cara membedakan gangguan delusi sebagai sebuah penyakit tersendiri dan sebagai gejala dari penyakit lainnya seperti jabaran di atas adalah dengan melihat gejala yang ditunjukkan penderita. Apabila penderita hanya mengalami delusi selama setidaknya satu bulan namun tidak menunjukkan gejala-gejala gangguan psikologis lainnya, maka ia mengalami gangguan delusi sebagai sebuah penyakit tersendiri.1-4
Gangguan ini dibedakan menjadi enam subtipe, yaitu erotomanic (percaya bahwa seseorang sangat mencintai dirinya), grandiose (percaya bahwa dirinyalah yang paling hebat), jealous (percaya bahwa pasangan sering selingkuh), persecutory (percaya bahwa orang terdekat selalu berada dalam bahaya), somatic (percaya bahwa dirinya memiliki sebuah penyakit atau kelainan fisik), dan campuran (mengalami dua atau lebih subtipe).1
Secara umum, masih belum dapat ditemukan etiologi pasti dari gangguan ini. Hal ini dikarenakan karena kesulitan untuk melakukan penelitian di area ini karena berbagai faktor, seperti penggolongan penderita gangguan delusi sebagai penyakit tersendiri yang digabungkan dengan penderita gangguan psikologis lainnya yang menunjukkan delusi sebagai salah satu gejala; tidak adanya penderita yang dirujuk ke dokter, sehingga tidak ada sampel untuk studi riset; serta indikasi kuat bahwa gangguan delusi “hanyalah” sebuah gangguan dan bukan sebuah penyakit seperti skizofrenia dan gangguan bipolar. Berdasarkan contoh-contoh kasus yang ada, maka dapat disimpulkan bahwa ada tiga etiologi, yaitu etiologi yang ditinjau dari genetika, biokimia, dan psikologis.1
Ditinjau dari segi genetika, hubungan antara gangguan delusi dengan gangguan psikologis yang lebih berat lainnya masih belum dapat ditentukan. Rata-rata, penderita gangguan delusional dapat berfungsi lebih baik dalam kesehariannya bila dibandingkan dengan penderita skizofrenia. Setelah beberapa waktu, kebanyakan penderita gangguan delusi akan menjadi stabil. Namun, juga ada beberapa penderita yang akhirnya mengalami skizofrenia. Dari sini, dapat dilihat adanya hubungan antara gangguan delusi dengan skizofrenia dan gangguan kepribadian skizotipal (schizotypal personality disorder).1
Dilihat dari faktor biokimia, gangguan delusi dapat dihasilkan dari kondisi medis bukan psikiatri. Contohnya, penderita gangguan saraf, luka di basal ganglia (basal ganglia lesions, yang mengakibatkan gangguan-gangguan hipokinetik dan hiperkinetik seperti obsessive-compulsive disorder dan sindrom Tourette’s), serta luka di lobus temporal (lobe temporal lesions). Sebuah kasus juga menunjukkan adanya seorang pria yang mengalami delusi somatik, yaitu delusi bahwa dirinya memiliki rahang bawah lain dengan gigi dan lidah yang menimbulkan sensasi tidak nyaman, menunjukkan bahwa ada hipoperfusi (hypoperfusion, yaitu suatu kondisi di mana sebuah organ mengalami kekurangan aliran darah) di lobus temporal dan lobus parietal. Sebuah eksperimen menggunakan uji gerak mata untuk mengetahui hubungan antara kerja lobus frontal dan gejala gangguan delusi secara klinis. Eksperimen ini menunjukkan bahwa dibandingkan peserta normal, pasien yang memiliki gangguan delusi menunjukkan adanya saccadic dan smooth pursuit eye movements, yang berarti kedua mata mereka dapat bergerak lebih cepat dan dapat terfiksasi di sebuah obyek dalam waktu yang lebih lama bila dibandingkan dengan pergerakan mata normal.1
Dari sisi psikologis, seseorang yang mengalami gangguan delusi memilih untuk menerima beberapa informasi saja. Mereka membuat kesimpulan dari informasi yang salah, menghubungkan kejadian-kejadian buruk pada penyebab pribadi yang tidak berhubungan, dan selalu berprasangka buruk kepada orang lain. Penderita gangguan ini juga membuat keputusan berdasarkan sedikit data bila dibandingkan dengan manusia normal. Dua model neuropsikologis yang dibuat untuk skizofrenia menunjukkan hubungan delusi dengan kondisi psikologis seseorang, yaitu CBM dan CDM. Sebuah cognitive bias model (CBM) menunjukkan bahwa paranoia dan delusi merupakan sebuah mekanisme pertahanan diri untuk melindungi rasa percaya diri yang rendah, sehingga kejadian menguntungkan dinilai berasal disebabkan dirinya sendiri, sedangkan kejadian yang merugikan dinilai disebabkan oleh orang lain. Cognitive deficit model (CDM) lebih fokus pada kelainan kognitif dan ketidakmampuan seseorang untuk mengetahui bahaya yang nyata atau yang tidak nyata. Hal inilah yang menjadi sebab dari delusi.5
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, ada sedikit sekali kasus yang menyangkut gangguan delusi sebagai sebuah penyakit tersendiri, sehingga tidak dapat ditemukan epidemiologi yang signifikan. Berdasarkan data statistik dari sebuah rumah sakit di Jerman, dalam periode tahun 2000 hingga 2006 saja, didapati bahwa 10% dari seluruh kasus pasien yang dirujuk ke rumah sakit karena gangguan psikologi adalah skizofrenia, namun hanya 0,5% yang dirujuk karena gangguan delusi. Dari sini, diperoleh kesimpulan bahwa perbandingan antara pasien penderita skizofrenia dan gangguan delusi adalah 20:1. Juga ditemukan bahwa wanita yang berusia lanjut lebih berkemungkinan untuk mengalami gangguan delusi.6
Ada berbagai macam patofisiologi penyakit ini. Yang pertama adalah genetik. Gangguan delusi bisa jadi merupakan permulaan dari penyakit psikologis lain yang “lebih” serius, seperti skizofrenia. Yang kedua, faktor biokimia. Sebuah eksperimen yang menggunakan tujuh belas kasus gangguan delusi sebagai sampel menunjukkan bahwa gangguan delusi memiliki hubungan dengan luka di beberapa bagian otak. Para pasien di kasus-kasus ini merupakan orang-orang yang memiliki delusi bahwa anggota keluarga mereka telah digantikan oleh orang lain, karena mereka mengenali anggota keluarga tersebut namun tidak merasakan adanya perasaan familiar. Metode yang digunakan adalah dengan mapping jaringan luka pada atlas otak umum, lalu menghubungkan bagian otak yang terlibat dalam familiarity perception dan belief evaluation dengan studi magnetic resonance imaging. Dari tujuh belas sampel tersebut, ditemukan bahwa ke-tujuh belas sampel tersebut terhubung dengan adanya kelainan di korteks retrosplenial kiri, yaitu bagian yang aktif dalam studi magnetic resonance imaging mengenai familiarity reception. Enam belas dari tujuh belas lokasi luka terhubung dengan korteks frontal kanan, bagian yang paling aktif dalam studi magnetic resonance imaging mengenai belief evaluation. Dapat disimpulkan dari eksperimen ini bahwa gangguan delusi dapat disebabkan karena luka pada bagian otak tertentu. Gangguan delusi juga dapat terjadi karena faktor psikologis, yaitu karena stres berlebihan, sehingga penderita secara otomatis membuat sebuah benteng pertahanan sebagai mekanisme pertahanan mereka.1,7
Patogenesis dari gangguan delusi dapat dilihat dari beberapa gejala yang ditunjukkan oleh penderita. Yang pertama, adanya delusi selama satu bulan atau lebih. Delusi yang dialami penderita gangguan ini dibagi menjadi dua, yaitu gangguan delusi “bizarre”, yaitu ketika seseorang mempercayai hal-hal yang memang benar-benar tidak nyata, dan gangguan delusi “non-bizarre”, ketika seseorang mempercayai hal-hal yang memang bisa terjadi di dunia nyata, seperti ditusuk atau diracuni. Lalu, adanya suasana hati yang naik-turun. Jika seorang penderita mengalami subtipe delusi yang spesifik, maka ia akan menunjukkan gejala seperti percaya bahwa seseorang sangat mencintai dirinya (erotomanic), dirinya yang paling hebat (grandiose), pasangan sering selingkuh (jealous), terlalu protektif akan orang di sekitarnya (persecutory), ada kelainan pada tubuhnya (somatic). Gejala yang ditunjukkan penderita gangguan delusi dan skizofrenia memang mirip, namun tidak bisa disamakan. Cara membedakannya adalah dengan melihat gejala dari Kriteria A skizofrenia, yaitu delusi, halusinasi, penurunan fungsi bicara, menunjukkan perilaku merusak, apatis, dan alogia. Seseorang yang mengalami skizofrenia telah mengalami dua atau lebih gejala di atas, bukan hanya delusi saja.1
Bila ada patogenesis atau gejala yang muncul pada penderita, maka dokter akan melakukan pengecekan sejarah medis dan uji fisik (physical examination). Memang tidak ada uji laboratorium untuk mendiagnosis gangguan delusi, namun dokter dapat menggunakan pengujian lainnya, seperti X-ray atau uji darah, untuk mengetahui apakah gangguan delusi tersebut disebabkan karena penyakit fisik lainnya. Dapat ditemukan kelainan menyangkut fisik pasien, misalnya saja luka di bagian otak tertentu. Bila tidak ditemukan penyakit fisik lain, dokter akan merujuk pasien ke psikiater atau psikolog, yang akan menggunakan teknik wawancara dan beberapa alat penguji yang secara spesifik dibuat untuk mengetahui adanya gangguan psikologis. lalu, psikolog atau psikiater akan mencocokkan gejala yang ditunjukkan oleh pasien (baik melalui perilaku maupun ucapan) dengan gejala yang ada pada “Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5)”. Penderita gangguan delusi setidaknya mengalami delusi jenis “non-bizarre” selama satu bulan, namun tidak memenuhi Kriteria A Skizofrenia seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya.1
Beberapa komplikasi yang dapat muncul karena gangguan delusi adalah depresi, karena penderita gangguan ini sulit menerima kenyataan sebenarnya. Komplikasi lainnya adalah permasalahan dengan pihak berwajib karena tindakan yang melanggar peraturan perundangan. Misalnya, seorang penderita gangguan delusi subtipe erotomanic akan melakukan pengintaian pada obyek afeksinya, atau bahkan menyerang obyek tersebut.1