Dalam peradaban umat islam

Dalam peradaban umat islam, bani abbasiyah merupakan salah satu bukti sejarah peradaban umat islam yang terjadi. Peradaban islam mengalami puncak kejayaan pada masa daulah abbasiyah. Dengan berbagai perkembangan ilmu seperti penerjemah asing yang membantu tarjim dari bahasa yunani dengan bahasa arab, pendirian pusat perkembangan ilmu, perpustakaan dan terbentuknya madzhab-madzhab ilmu pengetahuan bahkan keagamaan. Hal ini yang perlu menjadi acuan bagi kita generasi umat islam bahwa umat islam pernah menjadi umat yang memperoleh keemasan yang kesuksesannnya melebihi Negara eropa. Untuk itu dengan kita mengetahui bahwa dahulu peradaban umat islam pernah diakui oleh seluruh dunia akan membangkitkan rasa kepedulian denganbanyak kita mendapat motifasi sekaligus ilmubpengetahuan mengenai sejarah peradaban islam sehingga kita akan terus mencoba untuk mengulangi masa keemasan itu kembali nantinya oleh generasi umat islam saat ini.

PEMBAHASAN
A. Proses terbentuknya dinasti abbasiyah
Bani Abbas atau khalifah Abbasiyah ialah kekuasaan yang melanjutkan kekuasaanya Bani Umayyah. Yang mana dinamakannya khalifah Abbasiyah karena para pendiri dan penguasa dinasti adalah keturunan dari Al-Abbas yaitu paman Nabi Muhammad SAW. Dinasti Abbasiyah ini didirikan oleh Absullah ibn Al-Abbas. Tentunya berdirinya Dinasti Abbasiyah tidak bisa dilepaskan dari munculnya berbagai masalah di periode-periode terakhir pada dinasti Umayyah. Kemudian masalah-masalah itu tercampur dengan kepentingan-kepentingan yang terkait antara dinasti Ummayah dan dinasti Abbasiyah. Ketidakpuasan dimana-mana yang dapat terlihat dalam pemberontakan jelas menjadi terbiasa cukup serius bagi kehidupan dinasti Ummayah, yang kemudian menjadi peristiwa untuk menjatuhkan dinasti Umayyah yang dipimpin oleh Abu al-Abbas al-Safah.
Ketika dinasti Ummayah berkuasa Bani Abbas telah melakukan usaha perebutan kekuasaan sejak khalifah umar bin Abdul Aziz (717-720 M) berkuasa. Khaliffah itu dikenal liberal dan memberikan toleransi kepada kegiatan keluarga syi’ah. Gerakakan itu didahului oleh saudara-saudara dari Bani abbas seperti Ali bib Abdullah bin Abbas, Muhammad serta Ibrahim al-imam, yang semuanya mengalami kegagalan, meskipun belum melakukan gerakan yang bersifat politik. Sementara itu Ibrahim meninggal dalam penjara karena tertangkap, setelah menjalani hukuman kurungan karena melakukan gerakan makar. Barulah usaha perlawanan itu berhasil ditangan Abu Abbas, setelah melakukan pembantaian terhadap seluruh Bani Ummayah.
Sebelum didirikannya dinasti Abbasiyah ini juga terdapat tiga tokoh utama yang merupakan pusat kegiatan, tiga tempat utama ini memiliki kedudukan tersendiri dalam menjalan kan perannuya yang mana bertujuan untuk menegakkan kekuasaan keluarga Rsulullah dan pula menegakkan umat islam. Dari nama Al-Abbas paman Rasulullah tiga tempat pusat kegiatan itu bernamakan humaimah, kufah, dan khurasan. Humaimah merupakan tempat yang tentram yang mana keluarga bani Hasyim bermukim di kota ini, dan begitupun dari berbagai kalangan baik kaum pendukung ali maupun pendukung Abbas. Pada awal kekhalifahan Abbasiyah menggunakan kuffah sebagai pusat pemerintahan, dengan Abu as-safah sebagai khalifah pertama. Hingga dapat dijelaskan bahwa kuffah adalah wilayah yang penduduknya menganut aliran syi’ah, pendukung Ali bin Abi Thalib, yang terus bergejolak dan tertindas oleh Bani Umayyah, Sedangkan Khurasan adalah tempat yang mana memiliki warga yang pemberani, kuat fisik, teguh pendirian, tidak mudah terpengaruh nafsu dan tidak mudah bingung terhadap kepercayaan yang menyimpang, yang diharapkan dakwah kaum Abbasiyah mendapat dukungan.
a. Periode pertama (750-847 M)
Pada periode awal ini juga disebut dengan periode pengaruh persia pertama yang pada masa ini pemerintahan dinasti Abbasiyah masih terbawa bahkan masih menggunakan kebijakan perluasan daerah seperti kepemerintahan sebelumnya, jika dasar dari pemerintahan dinasti Abbasiyah terletak dan di bangun oleh Abu Abbas as-safak dan Abu jakfar al-mansur, maka terlihat jika masa keemasan terdapat pada tujuh khalifah sesudahnya. Sedangkan masa-masa keemasan sudah dimulai sejak pemerintahan pengganti khalifah al jakfar, dan telah mencapai puncaknya di masa pemerintahan harun al-rasyid. Yang mana pada masa keemasan ini para khalifah mengembangkan berbagai jenis kesenian, terutama pada kesusasteraan khususnya dalam kebudayaan pada umumnya. Periode ini juga berhasil menyiapkan filsafat dan ilmu pengetahuan dalam islam. Hal tersebut karena pada masa ini dinasti Abbasiyah lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan islam dari berbagai luasnya wilayah. Sedangkan system pemerintahan di masa ini disebut dengan system hukum pribadi yang diikat oleh syariat Al-quran yang berarti system berdasarkan pemikiran agama.
b. Periode kedua (847-945 M)
Pada periode ini juga biasa disebut dengan periode pengaruh turki pertama yang mana pemberontakan masih banyak terjadi dimana-mana seperti pemberontakan Zanj di daerah irakdan Karamitah yang berpusa di Bahrain. Faktor penting yang menyebabkan kemunduran Bani Abbas pada periode ini ialah luasnya wilayah kekuasaan yang haru pula dikendalikan sementara komunikasin memiliki perkembangan yang lambat, tindakan tentara yang menyebabkan ketergantungan kepada mereka yang sangat tinggi, dan juga kesulitan keuangan karena beban yang dimiliki tentara sangat besar. sedangkan setelah kekuatan militer merosot, khalifah tidak sanggup lagi memaksa pengirim pajak ke Baghdad.
c. Periode ketiga (945-1055 M)
Periode ini disebut dengan kekuasaan Bani Buwaih dalam pemerintahan khalifah Abbasiyah yang disebut juga masa pengaruh Persia kedua yang mana posisi daulah Abbasiyah berada dibawah Bani Buwaihi. Yang mana keadaan khalifah jauh lebih buruk dari pada masa sebelumnya. Tidak jauh karena kekuasaan Bani Buwaini menganut aliran syi’ah. Yang berakibat kedudukan khalifah tidak lebih sebagai pegawai yang diperintah dan diberi gaji. Dibalik itu bani Buwaihi telah membagi kekuasaannya sndiri dengan tiga bersaudara, Ali, Hasan dan Akhmad.
d. Periode keempat (1055-1199 M)
Periode ini juga disebut masa pengaruh turki kedua yang ditandai dengan kekuasaan Bani Seljuk dalam Daulah Abbasiyah. Kehadirannya juga karena undangan khalifah yang bertujuan untuk melumpuhkan kekuasaan daulah buwaih yang berada di bahdad. Saat itu keadaan khalifah memang sudah membaik, paling tidak karena kewibawaannya dalam ajaran agama yang telah kembalisetelah beberapa lama di kuasai oleh orang-orang syi’ah.
e. Periode kelima (1194-1258 M)
Periode yang disebut juga dengan masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lainnya, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar Baghdad. Di masa ini telah terjadi nya perubahan besar-besaran yang mana khalifah Abbasiyah tidak lagi berada dalam kekuasaan suatu dinasti tertentu. Semua itu juga karena mereka telah merdeka dan berkuasa, tetapi mereka berkuasa hanya di wilayah Baghdad dan sekitarnya.namun dengan memiliki wilayah kekuasaan yang sempit menunjukkan kelemahan politiknnya, pada masa ini sama halnya memberi kesempatan kepada tentara mongol dan tartar menghancurkan Baghdad tanpa perlawanan pada tahun 656 H/1256 M.
Pada masa bangsa mongol dapat menaklukkan Baghdad tahun 656/ 1258 M, ada seorang pangeran keturunan abbasiyah yang lolos dari pembunuhan dan meneruskan kekhalifahan dengan gelar khalifah yang hanya berkuasa di bidang keagamaan di bawah kekuasaa kaum mamluk di kaero, mesir tanpa kekuasaan duniawi yang bergelar sultan. Jabatan khalifah yang disandang oleh keturunan Abbasiyah di mesir berakhir dengan diambilnya jabatan itu oleh sultan salim I dari turki usmani ketika menguasai mesir pada tahun 1517 M. dengan demikian, hilangnya kekhalifahan Abbasiyah untuk selama-lamanya.
B. Masa kejayaan dinasti Abbasiyah
Pada periode pertama pemerintahan abbasiyah mencapai masa keemasan. Disisi lain kemakmuran masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Puncak kejayaan tersebut terjadi pada masa khalifah harun Al-Rasyid dan anaknya Al-makmun. Bahkan lembaga pendidikan pada masa bani abbasiyah mengalami perkembangan dan kemajuan yang cukup pesat, hal seperti ini juga sangat ditentukan perkembangan bahasa arab yang banyak dan hingga sebagian besar kemajuan pengetahuan dikarnakan perkembangan bahasa, adminitrasi maupun bahasa pengetahuan yang cukup baik. Selain itu juga ada dua hal yang tidak terlepas dari kemajuan ilmu pengetahuan yaitu:
a. Terjadinya asimilasi antara bahasa arab dengan bangsa lain yang telah lebih dulu mengalami kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada bani abbas, bangsa-bangsa non arab banyak yang masuk islam. Asimilasi berlangsung secara efektif dan bernilai guna. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu bagi perkembangan ilmu pengetahuan dalam islam. Pengaruh Persia sangat kuat dalam bidang ilmu pengetahuan. Disamping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam ilmu, filsafat, dan sastra. Pengaruh india terlihat dari bidang kedokteran, ilmu matematika, dan astronomi. Sedangkan pengaruh yunani terlihat dari terjemah-terjemaan di berbagai bidang ilmu, terutama filsafat.
b. Gerakan penerjemah berlangsung selama tiga fase. Fase pertama, pada masa khalifah al-mansyur hingga harun al-rasyid. Pada fase ini yang banyak diterjemah adalah buku-buku dibidang astronomi dan mantiq. Fase kedua terjadi pada masa khalifah al-makmun hingga tahun 300 H. buku-buku yang banyak diterjemah adalah bidang filsafat, dan kedokteran. Dan pada fase ketiga berlangsung setelah tahun 300 H, terutama setelah adanya pembuatan kertas. Selanjutnya bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas.
Pada masa pemerintahan harun al-rasyid kota Baghdad mencapai puncak yang benar-benar kemegahan yang belum pernah dicapai sebelumnya, harun sangat menyikai sastrawan, ulama, filosof yang dating dari segala penjuru ke Baghdad. Dan salah satu pendukung utama tumbuh pesatnya ilmu pengetahuan tersebut adalah didirikannya pabrik kertas di bahgdad.
Pabrik kertas ini memicu pesatnya penyalinan dan pembuatan naskah-naskah, dimasa itu seluruh buku ditulis tangan. Ilmu cetak muncul pada tahun 1450 M ditemukan oleh gubenur di jerman. Dikota-kota besar islam muncul took-toko buku sekaigus juga berfungsisebagai sarana pendidikan dan pengajaran non-formal.
C. Kemunduran Bani Abbasiyah
Akhir kekuasaan pemerintahan Abbasiyah karena bahgdad yang telah dihancurkan oleh pasukan mongol yang saat itu dipimpin oleh Hulagu khan. Yang mana ia adalah saudara dari kubilay yang berkuasa didaerah cina sampai ke asia tenggara. Namun Kehancuran Bani Abbasiyah juga terkait dengan dua faktor yaitu :
a. Faktor intern
Faktor ini terlihat dari lemahnya semangat dari patriotism Negara, yang menyebabkan jiwa jihad yang diajarkan islam tidak berkuasa bahkan tidak berdaya lagi untuk menahan segala amarah yang dihadapi.
Dan juga hilangnya amanah yang terdapat dalam perjanjian yang telah dibuat, sehingga mengakibatkan kerusakan moral dan hancurnya sifat rendah hati dan sifat-sifat baik yang slama ini telah mendukung Negara ini.
Kecenderungan madzhab persaingan dan juga adanya perebutan yang tidak kunjung berhenti antara Abbasiyah dan Alawiyah yang karena itu menjadikannya kekuatan seluruh umat islam melemah bahkan telah hancur.
Adapun turunnya kebutuhan ekonomi yang digunakan sebagai anggaran tentara, sehingga terjadi banyaknya pemberontakan dan kebiasaan penguasa untuk bersenang-senang / berfoya-foya.
b. Faktor eksteren
Di samping faktor-faktor internal, ada juga faktor ekstern yang menyebabkan dinasti ini terjun kejurang kehancuran total, yaitu serangan Bangsa Mongol. Latar belakang penghancuran dan penghapusan pusat Islam di Bagdad, salah satu faktor utama adalah gangguan kelompok Asasin yang didirikan oleh Hasan ibn Sabbah (1256 M.) dipegunungan Alamut, Iraq. Sekte, anak cabang Syi’ah Isma’iliyah ini sangat mengganggu di Wilayah Persia dan sekitarnya. Baik di Wilayah Islam maupun di Wilayah Mongol tersebut.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Penutup

Bani Abbasiyah merupakan masa dimana saat itu umat islam mengalami kejayaan yang istilah lainnya merupakan masa keemasan dari berbaga peradaban yang pernah ada. Pada masa kejayaan ini pemerintah memiliki berbagai pusat peradaban islam yang menjadikan islam menjadi islam yang berkemajuan yang berlangsung secara pesat sehingga menghasilkan beberapa tokoh ilmuan dari kalangan umat islam. Dan juga pada masa ini telah ada banyak dokter yang jumlah nya kurang lenbih 800 dokter yang berada di wilayah bahdad. Pada masa ini umat islam akan kesejahteraan sangat terjamin hal seperti ini juga karena pada masa ini di bangunnya beberapa rumah sakit, irigasi bahkan pemandian-pemandian umum.
Namun kesejahteraan tersebut tak berlangsung sampai akhir pemerintahan Abbasiyah, akan tetapi sebaliknya, di akhir pemerintahan Abbasiyah umat islam mengalami keterpurukan yang di sebabkan oleh serangan bangsa mongol yang telah menghancurkan pusat-pusat peradaban islam di bahdad. Bangsa mongol telah menghacurkan pusat ilmu sehingga umat islam sangat terpuruk pada saat itu.